Kamis, 27 Desember 2012

jalan

Jalan

        Ada sebuah jalan di kotaku yang aku sukai. Jalan itu adalah jalan lurus ke barat setelah  Perempatan Demangan. Jalannya sangat lebar . Selain lebar, Ia juga satu arah. Bila kita berjalan dari perempatan Demangan, kita akan melihat salah satu bioskop terkenal di kotaku di sisi kiri jalan. Di sisi kanan jalan, kita akan melihat beberapa perkantoran. Suasana yang dibangun teduh.
        Semakin kita masuk kedalam, kiri dan kanan jalan agak sedikit berbeda. Suasana teduh berubah tanpa terasa. Toko-toko muncul di kanan dan kiri jalan.  Jika kita lebih memperhatikan kanan jalan, kita akan melihat satu atau dua hotel megah yang tumbuh membaur dengan pertokoan di sampingnya. Seandainya kita lebih suka menengok sisi kiri, kita akan melihat ruko-ruko yang sejajar dan bertingkat.
       Ya, toko-toko di jalan itu biasanya adalah ruko-ruko yang bertingkat walau tidak semuanya. Namun, kau tidak akan menyadari itu dengan cepat. Lantai kedua setiap ruko biasa telah terisi oleh papan nama toko dibawahnya.
        Hmm… kau pasti bertanya apa yang menarik dari semua itu ?   
        Hal yang menarik adalah ruko-ruko sejajar tersebut merupakan bangunan lama. Aku masih bisa melihat lumut kering dan lama saat melihat lantai kedua ruko. Atap-atap ruko itu pun terlihat seirama sehingga orang dapat beranggapan ruko-ruko ini dibangun bersama-sama.
       Marilah kita kembali membahas jalan tersebut…
       Saat kau berada di pertengahan jalan tersebut dan berada terdapat sebelum ruko-ruko sejajar, kau akan melihat dua persimpangan jalan. Kau akan melihat bahwa daerah ruko-ruko tersebut terasa membentuk segitiga. Mereka menyempit di ujung tempat kamu berdiri dan melebar saat kau berada di ujung jalan selanjutnya. 
         Ujung jalan yang menyempit dan ruko-ruko kuno itu mengingatkanku pada suatu jalan di Inggris. Aku tak lupa nama jalan itu. Jalan itu pun teringat hanya seperti siluet cahaya yang datang samar-samar. Aku pun telah lupa-lupa ingat melihat jalan itu dari mana. Televisi adalah hal yang paling mungkin. Jalan itu sepertinya berhubungan dengan The Beatles.
         Mungkin orang akan berfikir ini berlebihan. Tak  apalah… Memang jalan ini sangat berbeda… Aku pernah memasuki daerah belakang ruko-ruko itu. Seperti dugaanku, Aku kecewa. Bagian belakang pertokoan hanya seperti bagian pertokoan yang biasa tapi aku suka sensasi rumah perkotaan kecil dengan keteduhan pepohonan yang ditawarkan di kiri jalan.
       Apapun itu siluet ingatan dan jalan itu telah membuatku merasa sangat senang…

Sabtu, 22 Desember 2012

bulan

  
BULAN



       Kamis kemarin, Aku dan teman sekelasku singgah di pantai Karang Asri, Pacitan. Kami pulang dari pernikahan salah satu teman sekelas kami. Sesampainya disana, Aku dan beberapa temanku jalan menuju lilin pantai yang berada lumayan jauh dari tempat mobil kami diparkirkan. Pulangnya, aku melihat dia, Bulan.
      Bulan tampak pucat saat aku melihatnya. Bulan membentuk setengah lingkaran seperti kacamata Dumbledore, bulan separo. “Untunglah,” bisikku. Aku yang berjalan menyelusuri pantai teringat pelajaran SMPku dulu.
     Ombak mengikuti arah angin sehingga bisa dikatakan angin adalah kemudi ombak. Akan tetapi besar pasang surut ombak ditentukan oleh grafitasi bumi dan grafitasi bulan-matahari secara bersamaaan. Aku pun berkesimpulan bahwa hubungan ketiganyalah membentuk pengendalian ombak.
      Bulan separo menunjukkan bulan, bumi dan matahari berada pada posisi yang membentuk sudut 90 derajat. Hubungan bulan dan matahari saat itu laksana air dan api. Mereka seperti 2 orang yang bermusuhan, saling berlawanan dan saling melemahkan. Kekuatan besar mereka seolah tak terlihat karena persaingan mereka dalam mempengaruhi pasang air laut.
      Aku membayangkan pasang yang mungkin terjadi saat hubungan keduanya terjalin erat. Saat keduanya dapat menyejajar diri dan berirama, pasang yang terjadi pastilah tidak hanya setinggi sekarang. Pasang saat itu pasti pastilah sangat tinggi dan kuat. Tempat aku berjalan ini pastilah telah terendam air laut saat itu dan jejakku hanya tinggal kenangan saja.
     Bulan terlihat pucat. Aku berjalan dengan gontai dan terburu-buru saat melihatnya. Aku sedang berduka dan bulan pun terlihat sama berdukanya. Kami seolah menangis bersama.
     “Apakah kau merindukan Sokka, Putri Yue ?”. Petikan kisah Aang, The Last Airbender menceritakan bahwa bulan berasal dari arwah Putri Yue, bangsawan suku air utara. Putri Yue mengorbankan diri menjadi roh bulan setelah roh bulan dibunuh panglima ambisius dari kerajaan api. Putri Yue menyukai Sokka meskipun dia telah ditunangkan. Kisah cinta pun berakhir saat Putri Yue memutuskan mengorbankan diri untuk menjadi roh bulan.
     Aku masih menatap si bulan separo. Bulan itu tampak sangat pucat jauh berbeda saat dia berani menunjukkan seluruh wajahnya pada bumi. Bulan Purnama bak seorang gadis jelita. Gadis cantik, menawan, dan anggun dengan rambut hitam lurus bergelombang. Dia memakai gaun panjang yang berkibar-kibar terhempas semilir angin malam.
      Sayang, wajah jelitanya bersemburat rona luka. Nini Anteh, tokoh kisah rakyat jawa barat itu, merindukan keluarganya. Dia tak bisa pulang-pulang karena tenunannya selalu rusak oleh kucing peliharaannya. Tenunannya itu tak jua menyentuh bumi dan dia masih disana.
     Bulan selalu saja mengingatkanku pada kesedihan. Aku sebenarnya juga pernah mendengar kisah indah mengenai bulan. Kisah mengenai dewi bulan dan dewa matahari yang saling mencintai. Gerhana merupakan pertemuan mereka.
     Bagaimana pun juga Bulan  tetap saja mempesonaku. Keindahannya, keanggunannya seperti seorang gadis jelita. Dapatkah aku sejelita itu ? Aku merasa cukup jelita sih :P. Kisah bulan menerbangkanku ke beribu novel cinta tapi aku masih menginjak tanah. Aku tersenyum dan berhenti menatapnya.