Sabtu, 22 Desember 2012

bulan

  
BULAN



       Kamis kemarin, Aku dan teman sekelasku singgah di pantai Karang Asri, Pacitan. Kami pulang dari pernikahan salah satu teman sekelas kami. Sesampainya disana, Aku dan beberapa temanku jalan menuju lilin pantai yang berada lumayan jauh dari tempat mobil kami diparkirkan. Pulangnya, aku melihat dia, Bulan.
      Bulan tampak pucat saat aku melihatnya. Bulan membentuk setengah lingkaran seperti kacamata Dumbledore, bulan separo. “Untunglah,” bisikku. Aku yang berjalan menyelusuri pantai teringat pelajaran SMPku dulu.
     Ombak mengikuti arah angin sehingga bisa dikatakan angin adalah kemudi ombak. Akan tetapi besar pasang surut ombak ditentukan oleh grafitasi bumi dan grafitasi bulan-matahari secara bersamaaan. Aku pun berkesimpulan bahwa hubungan ketiganyalah membentuk pengendalian ombak.
      Bulan separo menunjukkan bulan, bumi dan matahari berada pada posisi yang membentuk sudut 90 derajat. Hubungan bulan dan matahari saat itu laksana air dan api. Mereka seperti 2 orang yang bermusuhan, saling berlawanan dan saling melemahkan. Kekuatan besar mereka seolah tak terlihat karena persaingan mereka dalam mempengaruhi pasang air laut.
      Aku membayangkan pasang yang mungkin terjadi saat hubungan keduanya terjalin erat. Saat keduanya dapat menyejajar diri dan berirama, pasang yang terjadi pastilah tidak hanya setinggi sekarang. Pasang saat itu pasti pastilah sangat tinggi dan kuat. Tempat aku berjalan ini pastilah telah terendam air laut saat itu dan jejakku hanya tinggal kenangan saja.
     Bulan terlihat pucat. Aku berjalan dengan gontai dan terburu-buru saat melihatnya. Aku sedang berduka dan bulan pun terlihat sama berdukanya. Kami seolah menangis bersama.
     “Apakah kau merindukan Sokka, Putri Yue ?”. Petikan kisah Aang, The Last Airbender menceritakan bahwa bulan berasal dari arwah Putri Yue, bangsawan suku air utara. Putri Yue mengorbankan diri menjadi roh bulan setelah roh bulan dibunuh panglima ambisius dari kerajaan api. Putri Yue menyukai Sokka meskipun dia telah ditunangkan. Kisah cinta pun berakhir saat Putri Yue memutuskan mengorbankan diri untuk menjadi roh bulan.
     Aku masih menatap si bulan separo. Bulan itu tampak sangat pucat jauh berbeda saat dia berani menunjukkan seluruh wajahnya pada bumi. Bulan Purnama bak seorang gadis jelita. Gadis cantik, menawan, dan anggun dengan rambut hitam lurus bergelombang. Dia memakai gaun panjang yang berkibar-kibar terhempas semilir angin malam.
      Sayang, wajah jelitanya bersemburat rona luka. Nini Anteh, tokoh kisah rakyat jawa barat itu, merindukan keluarganya. Dia tak bisa pulang-pulang karena tenunannya selalu rusak oleh kucing peliharaannya. Tenunannya itu tak jua menyentuh bumi dan dia masih disana.
     Bulan selalu saja mengingatkanku pada kesedihan. Aku sebenarnya juga pernah mendengar kisah indah mengenai bulan. Kisah mengenai dewi bulan dan dewa matahari yang saling mencintai. Gerhana merupakan pertemuan mereka.
     Bagaimana pun juga Bulan  tetap saja mempesonaku. Keindahannya, keanggunannya seperti seorang gadis jelita. Dapatkah aku sejelita itu ? Aku merasa cukup jelita sih :P. Kisah bulan menerbangkanku ke beribu novel cinta tapi aku masih menginjak tanah. Aku tersenyum dan berhenti menatapnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar