BULAN
Kamis kemarin, Aku dan teman
sekelasku singgah di pantai Karang Asri, Pacitan. Kami pulang dari
pernikahan
salah satu teman
sekelas kami. Sesampainya disana, Aku dan beberapa temanku jalan
menuju lilin pantai yang berada lumayan jauh dari tempat mobil kami
diparkirkan. Pulangnya, aku melihat dia, Bulan.
Bulan
tampak pucat saat aku melihatnya. Bulan membentuk setengah lingkaran
seperti kacamata
Dumbledore, bulan
separo. “Untunglah,” bisikku. Aku yang berjalan menyelusuri
pantai teringat pelajaran SMPku dulu.
Ombak
mengikuti arah angin sehingga bisa dikatakan angin adalah kemudi
ombak. Akan tetapi besar pasang surut ombak ditentukan oleh grafitasi
bumi dan grafitasi bulan-matahari secara bersamaaan. Aku pun
berkesimpulan bahwa hubungan ketiganyalah membentuk pengendalian
ombak.
Bulan
separo menunjukkan bulan, bumi dan matahari berada pada posisi yang
membentuk sudut 90 derajat. Hubungan bulan dan matahari saat itu
laksana air dan api. Mereka seperti 2 orang yang bermusuhan, saling
berlawanan dan saling melemahkan. Kekuatan besar mereka seolah tak
terlihat karena persaingan mereka dalam mempengaruhi pasang air laut.
Aku
membayangkan pasang yang mungkin terjadi saat hubungan keduanya
terjalin erat. Saat keduanya dapat menyejajar diri dan berirama,
pasang yang terjadi pastilah tidak hanya setinggi sekarang. Pasang
saat itu pasti pastilah sangat tinggi dan kuat. Tempat aku berjalan
ini pastilah telah terendam air laut saat itu dan jejakku hanya
tinggal kenangan saja.
Bulan
terlihat pucat. Aku berjalan dengan gontai dan terburu-buru saat
melihatnya. Aku sedang berduka dan bulan pun terlihat sama
berdukanya. Kami seolah menangis bersama.
“Apakah
kau merindukan Sokka, Putri Yue ?”. Petikan kisah Aang, The Last
Airbender menceritakan bahwa bulan berasal dari arwah Putri Yue,
bangsawan suku air utara. Putri Yue mengorbankan diri menjadi roh
bulan setelah roh bulan dibunuh panglima ambisius dari kerajaan api.
Putri Yue menyukai Sokka meskipun dia telah ditunangkan. Kisah cinta
pun berakhir saat Putri Yue memutuskan mengorbankan diri untuk
menjadi roh bulan.
Aku
masih menatap si bulan separo. Bulan itu tampak sangat pucat jauh
berbeda saat dia berani menunjukkan seluruh wajahnya pada bumi. Bulan
Purnama bak seorang gadis jelita. Gadis cantik, menawan, dan anggun
dengan rambut hitam lurus bergelombang. Dia memakai gaun panjang yang
berkibar-kibar terhempas semilir angin malam.
Sayang,
wajah jelitanya bersemburat rona luka. Nini Anteh, tokoh kisah rakyat
jawa barat itu, merindukan keluarganya. Dia tak bisa pulang-pulang karena
tenunannya selalu rusak oleh kucing peliharaannya. Tenunannya itu tak
jua menyentuh bumi dan dia masih disana.
Bulan
selalu saja mengingatkanku pada kesedihan. Aku sebenarnya juga pernah mendengar kisah indah mengenai bulan. Kisah mengenai dewi bulan dan dewa matahari yang saling mencintai. Gerhana merupakan pertemuan mereka.
Bagaimana pun juga Bulan tetap saja mempesonaku. Keindahannya, keanggunannya seperti seorang gadis jelita. Dapatkah aku sejelita itu ? Aku merasa cukup jelita sih :P. Kisah bulan menerbangkanku ke beribu novel cinta tapi aku masih menginjak tanah. Aku tersenyum dan berhenti menatapnya.