Minggu, 27 Maret 2016

Gadis yang Sukar Mencium Bau

Gadis itu masih saja membaui parfum yang dipegangnya. Lima menit telah berlalu dan gadis itu masih saja membaui parfum itu. Dia seolah tak perduli dengan tatapan beberapa pengunjung mini market tersebut. Senyum tersungging di bibirnya.

----------------------------------

Parfum itu memang elegant. Wadahnya terbuat dari kaca, bening dan ramping. Sedikit sentuhan modern pada tutup botolnya pun menambah kesan keanggunan di parfum itu. Aromanya juga tidak ndulet kalau kata orang-orang jawa. Parfum yang benar-benar sesuai dari penampilan gadis itu.

Gadis itu memang sangat menyukai bau wangi. Pernah dan sering kali gadis itu membaui punggung tangannya hanya untuk mencium aroma lulur atau sabun wanginya lagi. Setiap kali mememukan bau harum yang menembus hidungnya, gadis itu bak anak kecil yang mendapatkan permen.

Kegemarannya akan bau wangi ini sedikit banyak dipengaruhi kemampuannya dalam membaui. Bau parfum, bau mawar bahkan bau busuk sampah saja jarang tercium olehnya. Oleh karenanya, gadis itu sangat sangat sangat bahagia sekali saat berhasil mencium bau wangi.

"Kemungkinan kamu alergi," kata dokter kala itu.

Suatu saat gadis itu penasaran dengan dirinya. Ada semacam lapisan yang kenyal seperti kelenjar yang menutupi bagian dalam hidungnya. Anehnya, kadang lapisan kenyal itu tidak ada. Apa itu ? Gadis itu pun ke dokter.

Setelah mendapat penjelasan dokter, gadis itu berhenti. Gadis itu tak lagi meneruskan saran dokter untuk meminum obat alergi. Gadis itu benci obat.

Gadis itu didiagnosa alergi dingin. Setiap kali merasakan dingin, kelenjar dalam hidungnya membesar. Pernah suatu kali, kepalanya pusing gara perbesaran kelenjar itu.

---------------------
Orang - orang masih memandangi gadis itu. Aneh, pikir orang-orang, kenapa gadis itu terus membaui parfum itu ? Untungnya gadis itu tidak terganggu dengan pikiran orang-orang itu. Baginya semua orang sama saja. Sama-sama tidak berbau.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar