BAB I
Terluka....
Nanar itu terbuka
Biarlah.... Biarlah....
Dengan ini aku bisa sembuhkan
Tak perlu kututupi
tak ada yang ditutupi
Luka ini akan sembuh jua seiring waktu
Dan
Kata cinta akan berubah jadi kenangan
_________________________________________________________________________________
BAB II
Biarlah...
Biarlah rinduku jadi abu
disoroti lidah jahat
dan nyanyian hening
kemudian simfoni kan berlanjut
_________________________________________________________________________________
BAB III
Dan risau....
Harapan dan khayalan bercampur
Membaur, menyatu
Membodohi kenyataan ?
Ataukah kenyataan yang tercemari ?
Menoleh tetapi tetap berjalan
Ya.... aku rindu dan takut
Tapi tetap berjalan
_________________________________________________________________________________
BAB IV
Dan cinta
Menyebut nama dengan lirih, sayang
Membeo namanya
Berteriak "aku bahagia bila kamu bahagia !"
tapi tersenyum palsu
Terdiam, aku cinta padanya
Rabu, 23 Desember 2015
Kamis, 27 Desember 2012
jalan
Jalan
Ada sebuah jalan di
kotaku yang aku sukai. Jalan itu adalah jalan lurus ke barat setelah Perempatan Demangan. Jalannya sangat lebar .
Selain lebar, Ia juga satu arah. Bila kita berjalan dari perempatan Demangan,
kita akan melihat salah satu bioskop terkenal di kotaku di sisi kiri jalan. Di
sisi kanan jalan, kita akan melihat beberapa perkantoran. Suasana yang dibangun
teduh.
Semakin kita masuk
kedalam, kiri dan kanan jalan agak sedikit berbeda. Suasana teduh berubah tanpa
terasa. Toko-toko muncul di kanan dan kiri jalan. Jika kita lebih memperhatikan kanan jalan,
kita akan melihat satu atau dua hotel megah yang tumbuh membaur dengan
pertokoan di sampingnya. Seandainya kita lebih suka menengok sisi kiri, kita
akan melihat ruko-ruko yang sejajar dan bertingkat.
Ya, toko-toko di jalan
itu biasanya adalah ruko-ruko yang bertingkat walau tidak semuanya. Namun, kau
tidak akan menyadari itu dengan cepat. Lantai kedua setiap ruko biasa telah
terisi oleh papan nama toko dibawahnya.
Hmm… kau pasti bertanya
apa yang menarik dari semua itu ?
Hal yang menarik adalah ruko-ruko sejajar
tersebut merupakan bangunan lama. Aku masih bisa melihat lumut kering dan lama
saat melihat lantai kedua ruko. Atap-atap ruko itu pun terlihat seirama sehingga
orang dapat beranggapan ruko-ruko ini dibangun bersama-sama.
Marilah kita kembali
membahas jalan tersebut…
Saat kau berada di
pertengahan jalan tersebut dan berada terdapat sebelum ruko-ruko sejajar, kau
akan melihat dua persimpangan jalan. Kau akan melihat bahwa daerah ruko-ruko
tersebut terasa membentuk segitiga. Mereka menyempit di ujung tempat kamu
berdiri dan melebar saat kau berada di ujung jalan selanjutnya.
Ujung jalan yang
menyempit dan ruko-ruko kuno itu mengingatkanku pada suatu jalan di Inggris.
Aku tak lupa nama jalan itu. Jalan itu pun teringat hanya seperti siluet cahaya
yang datang samar-samar. Aku pun telah lupa-lupa ingat melihat jalan itu dari
mana. Televisi adalah hal yang paling mungkin. Jalan itu sepertinya berhubungan
dengan The Beatles.
Mungkin orang akan
berfikir ini berlebihan. Tak apalah…
Memang jalan ini sangat berbeda… Aku pernah memasuki daerah belakang ruko-ruko
itu. Seperti dugaanku, Aku kecewa. Bagian belakang pertokoan hanya seperti
bagian pertokoan yang biasa tapi aku suka sensasi rumah perkotaan kecil dengan
keteduhan pepohonan yang ditawarkan di kiri jalan.
Apapun itu siluet
ingatan dan jalan itu telah membuatku merasa sangat senang…
Sabtu, 22 Desember 2012
bulan
BULAN
Kamis kemarin, Aku dan teman sekelasku singgah di pantai Karang Asri, Pacitan. Kami pulang dari pernikahan salah satu teman sekelas kami. Sesampainya disana, Aku dan beberapa temanku jalan menuju lilin pantai yang berada lumayan jauh dari tempat mobil kami diparkirkan. Pulangnya, aku melihat dia, Bulan.
Bulan
tampak pucat saat aku melihatnya. Bulan membentuk setengah lingkaran
seperti kacamata
Dumbledore, bulan
separo. “Untunglah,” bisikku. Aku yang berjalan menyelusuri
pantai teringat pelajaran SMPku dulu.
Ombak
mengikuti arah angin sehingga bisa dikatakan angin adalah kemudi
ombak. Akan tetapi besar pasang surut ombak ditentukan oleh grafitasi
bumi dan grafitasi bulan-matahari secara bersamaaan. Aku pun
berkesimpulan bahwa hubungan ketiganyalah membentuk pengendalian
ombak.
Bulan
separo menunjukkan bulan, bumi dan matahari berada pada posisi yang
membentuk sudut 90 derajat. Hubungan bulan dan matahari saat itu
laksana air dan api. Mereka seperti 2 orang yang bermusuhan, saling
berlawanan dan saling melemahkan. Kekuatan besar mereka seolah tak
terlihat karena persaingan mereka dalam mempengaruhi pasang air laut.
Aku
membayangkan pasang yang mungkin terjadi saat hubungan keduanya
terjalin erat. Saat keduanya dapat menyejajar diri dan berirama,
pasang yang terjadi pastilah tidak hanya setinggi sekarang. Pasang
saat itu pasti pastilah sangat tinggi dan kuat. Tempat aku berjalan
ini pastilah telah terendam air laut saat itu dan jejakku hanya
tinggal kenangan saja.
Bulan
terlihat pucat. Aku berjalan dengan gontai dan terburu-buru saat
melihatnya. Aku sedang berduka dan bulan pun terlihat sama
berdukanya. Kami seolah menangis bersama.
“Apakah
kau merindukan Sokka, Putri Yue ?”. Petikan kisah Aang, The Last
Airbender menceritakan bahwa bulan berasal dari arwah Putri Yue,
bangsawan suku air utara. Putri Yue mengorbankan diri menjadi roh
bulan setelah roh bulan dibunuh panglima ambisius dari kerajaan api.
Putri Yue menyukai Sokka meskipun dia telah ditunangkan. Kisah cinta
pun berakhir saat Putri Yue memutuskan mengorbankan diri untuk
menjadi roh bulan.
Aku
masih menatap si bulan separo. Bulan itu tampak sangat pucat jauh
berbeda saat dia berani menunjukkan seluruh wajahnya pada bumi. Bulan
Purnama bak seorang gadis jelita. Gadis cantik, menawan, dan anggun
dengan rambut hitam lurus bergelombang. Dia memakai gaun panjang yang
berkibar-kibar terhempas semilir angin malam.
Sayang,
wajah jelitanya bersemburat rona luka. Nini Anteh, tokoh kisah rakyat
jawa barat itu, merindukan keluarganya. Dia tak bisa pulang-pulang karena
tenunannya selalu rusak oleh kucing peliharaannya. Tenunannya itu tak
jua menyentuh bumi dan dia masih disana.
Bulan
selalu saja mengingatkanku pada kesedihan. Aku sebenarnya juga pernah mendengar kisah indah mengenai bulan. Kisah mengenai dewi bulan dan dewa matahari yang saling mencintai. Gerhana merupakan pertemuan mereka.
Bagaimana pun juga Bulan tetap saja mempesonaku. Keindahannya, keanggunannya seperti seorang gadis jelita. Dapatkah aku sejelita itu ? Aku merasa cukup jelita sih :P. Kisah bulan menerbangkanku ke beribu novel cinta tapi aku masih menginjak tanah. Aku tersenyum dan berhenti menatapnya.
Bagaimana pun juga Bulan tetap saja mempesonaku. Keindahannya, keanggunannya seperti seorang gadis jelita. Dapatkah aku sejelita itu ? Aku merasa cukup jelita sih :P. Kisah bulan menerbangkanku ke beribu novel cinta tapi aku masih menginjak tanah. Aku tersenyum dan berhenti menatapnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
